Lima Puluh Ribu | #DiRi Dira's story
Sepertinya aku mau menumpahkan kekesalanku di sini. Oke, so ... today I lost my money. Yeah, kamu nggak salah denger kalau aku baru kehilangan uang. Dan yang cukup membuatku shock adalah uang yang hilang itu sangat fantastis bagiku. Lima puluh ribu. Bagiku, lima puluh ribu itu bisa beli banyak hal, tentu. Dan aku baru saja menghilangkannya. Sedih banget rasanya tuh. Padahal itu adalah uang saku buat minggu depan, tapi ya mau gimana lagi. So, aku pengen nangis aja rasanya. Boleh nggak sih? Tapi aku masih di sekolah. Jadi jangan nangis dulu.
Tadi aku cepat-cepat buat berangkat sekolah, aku pun langsung mengambil uang--lebih tepatnya mencakup uang yang ada di rak buku ku, sih. Karena jamnya sudah mepet sekali, takut kalau telat. Jadi aku memasukkan uang itu ke saku seragam. Ya seperti biasa. Biasanya memang uang saku aku taruh di seragam beserta kunci motor. Karena menurutku cukup aman, walau nggak menjamin. Ini jangan ditiru ya, Guys. Biar lebih aman, mending kamu letakkan di tas.
Tapi hari ini, aku kehilangan uangku itu. Rasanya pengen marah, kesel, dan nggak habis pikir. Kenapa harus lima puluh ribu? Mana itu uang buat hidup minggu depan lagi. Sedih banget. Terakhir kali aku lihat uangku itu ketika mau beli jajan di kantin. Aku jajan sama temanku, beli makanan seperti biasa. Nah, saat mau membayar itu aku mengambil uang sepuluh ribu, dan di saku aku itu masih ada uang lima puluh ribu. Ya sudah, sampai di kelas aku makan makanan yang aku beli sambil ngobrol sama temanku. Aku masih ngerasa pengen makanan lagi, lalu aku menawarkan temanku untuk beli makanan di kantin. Btw, temanku ini beda lagi sama yang pas aku jajan pertama kali.
Waktu aku mau bayar, aku kaget. Rencanaku, aku mau bayar pakai uang lima puluh ribu itu. Tapi pas aku rogoh saku ku, cuman ada dua ribuan berjumlah dua dan uang koin. Lho kok uangku yang lima puluh ribu nggak ada? Lalu apa aku keluar dari kantin, aku bilang ke temenku, kalau uang lima puluh ribu ku sudah nggak ada, padahal aku belum memakainya. Tentu saja temanku kaget. Bagaimana tidak? Bagi bocah SMA sepertiku, lima puluh ribu adalah hal yang berharga.
Temanku menyarankan buat kembali ke kantin, mungkin saja jatuh di sekitar sana. Sampai sana pun, aku nggak menemukan apa pun. Sebenarnya, aku pengen tanya sama penjual kantin, tapi nyaliku menciut. Karena banyak siswa-siswi yang sedang membeli. Temanku mencoba menebak-nebak di mana aku meletakkan uang itu. Dia coba mengingat-ingat apa saja yang ku lakukan, dan dia mencoba menyuruhku untuk mengecek kantong plastik yang sudah aku buang di tempat sampah. Siapa tahu uang itu ikut kebuang. Aku pun mengeceknya.
Tapi nihil. Tidak ada tanda-tanda warna biru di sana. Temanku juga ikut menginfokan ke teman kelas, siapa tahu ada yang melihat. Tapi sampai sekarang pun aku belum menemukannya.
Sekarang di kantongku tinggal dua ribu rupiah saja. Aku masih berharap kok dengan uangku itu. Tapi yang namanya musibah emang nggak ada yang tahu. Aku cuman bisa berdoa, kalau uang itu masih rezeki, aku mohon kepada-Nya agar uang itu bisa kembali dengan mudah. Tapi kalau memang itu bukan rezekiku, InsyaAllah aku ikhlas untuk semua ketetapan-Nya. Karena aku yakin dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Dan Allah nggak mungkin mengambil begitu saja tanpa ada maksud tertentu supaya aku lebih bisa menghargai uang dan tidak teledor ketika menaruh barang atau sesuatu.
Ini sangat menjadi pelajaran bagiku untuk lebih berhati-hati jika menaruh sesuatu, apalagi jika sesuatu itu penting dalam hidupmu.
••
Saat di kelas, aku sering sekali di tanya oleh teman-temanku, "Uangnya sudah ketemu atau belum?" dan aku jawab dengan gelengan kepala.
Teman-temanku pada heran, bisa-bisanya kehilangan uang lima puluh ribu tetap tenang dan biasa saja.
Justru itu. Aku pengen diriku ini bisa bersikap tenang dalam situasi apa pun. Kecewa, panik, dan sedih saat mendapat musibah, itu pasti ada. Tapi kalau cuman panik doang, nggak akan merubah apapun. Tugas kita ya cuman berusaha dan bangkit sekuat tenaga.
Nggak tau kenapa, aku yakin kalau uangku itu ya di sekitar kantin. Entah itu jatuh pas aku merogoh saku ataupun aku salah menyodorkan uang saat membayar.
Sampai-sampai, setelah beli makanan di kantin ketika istirahat kedua--aku jalan sambil melamun memikirkan uang itu. Dan tiba-tiba saja ....
"Eh, salah kelas!" ujarku panik. IYA, AKU SALAH KELAS!
Teman-temanku yang ada dibelakangku tertawa karena ulahku itu. Bisa-bisanya salah masuk kelas. Tidak lupa juga, kelas yang tidak sengaja aku masuki itu, orang di dalamnya juga terheran-heran lalu menertawaiku. Duh, malu banget! Gara-gara lima puluh ribu!
••
Sepulang sekolah, aku disuruh ibuku untuk mengantar makanan ke rumah nenekku. Hufft. Malas banget aku tuh. Ya karena capek habis pulang sekolah ke rumah nenek, karena rumah nenek beda desa denganku. Tadi aku sempat berdebat dengan ibuku untuk mengantarkan makanan ini. Duh, bener-bener keras kepala aku ini.
Akhirnya aku pun ke rumah nenek sama adikku, sebelum itu aku beli bensin terlebih dahulu. Walaupun uang tadi hilang, tapi aku masih punya simpanan di wadah. Jadi, itu memang uang untuk keadaan darurat seperti sekarang. Ya gapapa lah ya uangku jadi berkurang lagi, buat beli bensin.
Ketika sampai di rumah nenek, kebetulan sekali ternyata ada Bu Lik. Aku langsung salaman dan meletakkan makanan ke dapur. Ketika di dapur itu, aku tanya sama Bu Lik di mana aku harus meletakkan makanan ini. Bu Lik pun membantu.
Setelah selesai, Bu Lik membuka dompetnya, lalu bilang, "Nih, uang buat kamu," katanya sambil menyodorkan satu lembar uang dua puluh ribu dan satu lembar uang sepuluh ribu.
Aku pun kaget. "Jangan Bu Lik, kemarin kan sudah," jawabku sambil malu-malu kucing. Iya malu, tapi mau. HAHAHA.
Karena memang anaknya Bu Lik itu, biasanya dititipkan ke ibuku, karena ibuku dan Bu Lik bekerja di satu perusahaan yang sama, jadi ada semacam shift gitu. Dan biasanya memang aku sering dikasih uang buat bayaran, padahal yang mengurusi mah ibu aku lah. Tapi seringkali kasih uangnya ke aku, ya karena kalau ke ibuku pasti nggak mau, malah jadi repot kan?
Walaupun begitu, aku tetap akan menyampaikan ke ibuku kok, kalau aku habis dikasih uang. Nanti tinggal keputusan ibuku, uang itu mau diambil atau nggak. Tapi kebanyakan aku sih yang ngambil. Soalnya ibu sering bilang, "Udah gapapa, ambil aja. Buat tambahan saku." Hehehe.
Karena Bu Lik 'memaksa' ku untuk mengambil uangnya, dengan malu-malu kucing, aku pun menerima uang itu sambil mengucapkan terima kasih. Nggak cuman itu, adikku yang ikut juga dikasih dua lembar lima ribu rupiah. Duh, makasih banyak deh buat Bu Lik. Alhamdulillah ala kulli haal.
Bener-bener, emang kalau rezeki itu nggak akan kemana. Setiap kita kehilangan sesuatu, pasti Allah akan menggantinya yang lebih baik. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu saat nanti. Tak usah khawatir, karena janji Allah itu pasti ada. Berkhusnudzon-lah kepada-Nya.